 Ketergantungan ini adalah gejala dorongan untuk menggunakan narkoba secara terus menerus, tubuh kemudian mentoleransi dan gejala putus obat apabila penggunaan dihentikan. Istilah coba pakai, teratur pakai dan pecandu merupakan istilah-istilah tahapan seseorang ketika pakai narkoba. Istilahnya Tahapan Kecanduan. Dari pengalaman selama ini, tahapan sesorang ketika pakai narkoba itu adalah : Occasional User Menggunakan narkoba tak teratur atau coba pakai
Social / Recreational User Menggunakan narkoba hanya pada saat tertentu, misal mengkonsumsi ekstasi saat jojing di diskotik
Psycological Dependence Penggunaan narkoba tahap teratur pakai yang mengakibatkan ketergantungan fisik dan psikis.
Compulsive User Pecandu Berat, pokoknya hidup untuk make. Data Program Rumatan Methadone (PRM) RS Sanglah Denpasar menyebutkan dari sekitar 102 penyalahguna narkoba yang melakukan terapi awal, sebagian besar klien adalah pengguna yang hanya coba-coba dan menggunakan beragam obat dan zat (multi drugs). Awal mulanya kecanduan alcohol dan tembakau (rokok). Zat awal yang menyenangkan … lalu bereksperimen mencoba narkoba lain.
Yang disalahgunakan : Alkohol 85%, tembakau 99%, ganja 51%, Obat tidur 58%, Amphetamine (ekstasi) 45%, Shabu shabu 33%, kokain 24%, inhalan 16% dan putaw (heroin) 100%. Semua klien akhirnya terpuruk menyalahgunakan putaw (heroin) yang memberikan efek berbahaya lainnya yakni terinfeksi HIV / AIDS dan Hepatitis C. Hampir sebagian penyalahguna narkoba suntik yang sharing (menggunakan 1 jarum untuk bersama-sama) terinfeksi virus yang belum ditemukan pelumpuhnya ini. Karena itu, salah satu alternatif dari pengurangan ketergantungan narkoba secara fisik adalah methadone, suatu substitusi heroin yang dikomsumsi oral (melalui mulut, sehingga aman dari infeksi HIV / AIDS dan Hepatitis C). KETERGANTUNGAN FISIK SAKAW, begitulah istilah jalanan dari sindrom putus obat bagi para pecandu Putaw. Sakaw adalah singkatan dari Sakit karena Putaw. Disinilah awal kehancuran para pecandu narkoba. Terputusnya penggunaan putaw, membuat pecandunya merasakan sakit luar biasa. Obatnya tidak lain adalah putaw. Ini yang disebut sebagai kecanduan fisik, salah satu akibat ketergantungan yang diakibatkan oleh narkoba. Kecanduan fisik membuat pemakainya selalu membutuhkan zat tersebut untuk menghindari kesakitan luar biasa. Sindroma ini sudah dapat terjadi dalam 5 atau 6 jam setelah pemakaian terakhir. Artinya dalam 5 - 6 jam, pemakainya harus pakaw (pake putaw). Tanda-tanda kecanduan fisik : gelisah, sakit suluruh tubuh, pusing, merinding, dsb.
KETERGANTUNGAN PSIKIS Selain ketergantungan fisik, secara bersamaan juga bisa terjadi ketergantungan psikis akibat narkoba. Kecanduan psikis yang terjadi akibat otak menginginkan zat itu lagi. Nama jalannya adalah Sugest, singkatan dari kata Suggestion. Ada sementara pendapat yang menganggap bahwa putaw jauh lebih berbahaya dibandingkan ekstasi. Pendapat ini tentunya tidak sepenuhnya benar, karena sebenarnya keduanya sama-sama berbahaya. Keduanya sama-sama merusak masa depan siapapun dengan segala dampak buruknya. Putaw dan ekstasi sama-sama menyebabkan kecanduan. Ekstasi atau clubdurgs memang hanya menyebabkan kecanduan psikis. Tidak ada kecanduan fisik yang diakibatkan sehingga sering dianggap tidak berbahaya. Berhenti mengkonsumsi clubdrugs tak menyebabkan pecandunya merasakan sakit luar biasa seperti sakaw yang dialami pecandu putaw. Perlu diketahui, bahwa ekstasi, shabu-shabu dan bentuk clubdrugs lainnya merupakan buatan manusia dari bahan – bahan tertentu. Proses pembuatannya juga sangat sederhana, tidak memerlukan teknologi yang terlalu canggih, sehingga clubdrugs bisa dibuat kapanpun, dimanapun dan dalam jumlah berapapun. Yang membatasi produksinya hanyalah hati nurani si pembuat. Sementara bahan pembuat putaw adalah bahan yang keluar dari pohon candu. Jumlah yang dihasilkanpun tak banyak. Masing-masing pohon candu hanya bisa menghasilkan zat tersebut selama seminggu dalam setahun. Dengan demikian besar-kecilnya jumlah produk yang dihasilkan sangat ditentukan oleh keadaan alam. Kasus kecanduan putaw sudah banyak diketahui dan dipelajari, sehingga sudah ada obat penawar khusus untuk membantu orang overdosis karena putaw. Tak hanya itu ada pula obat yang bisa berfungsi seperti putaw, Jadi putaw bisa disubstitusikan dengan beberapa jenis obat lain seperti methadon dan buprenorphin seperti subutex. Bahkan putaw juga ada obat antagonisnya. Kalau menggunakan obat tersebut, pemakaian putaw tidak berefek sama sekali. Namun pada narkoba jenis shabu-shabu / ekstasi, hingga kini belum ada obat-obatan spsesifik seperti diatas. Namun demikian jangan sekali-kali meremehkan efek negatif yang bisa diakibatkan oleh clubdrugs. Clubdrugs dapat mengakibatkan sakit jiwa pada penggunanya. Penggunanya bisa seolah-olah paranoid terhadap hal-hal tertentu. Itu karena efek obat tersebut langsung menyerang sistem otak. Baik putaw maupun ekstasi / shabu-shabu sama – sama bisa membuat kematian. Penyalahgunaannya juga bisa menyebabkan ganguan dalam perilaku sosial. Dalam pemakaian putaw, dapat terjadi kecanduan fisik, atau yang umum disebut sakit karena putaw (sakaw), sedangkan pada ekstasi / shabu-shabu kecanduan fisik terjadi dengan penggunaan dosis tinggi dan penggunaan jangka panjang. Kecanduan psikis yang diakibatkan dalam tempo tertentu bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan.
|