|
Pemain keyboard dari band cewek, Ladies Room ini tahu banyak soal drugs. Maklum saja, dia memang pegiat lembaga Sosial Kisara (Kita Sayang Remaja), yang membuka konseling remaja diantaranya mereka yang punya problem dengan obat-obatan terlarang. Dari Kisara membentuk Band bersama Nanda (vocal & rythym), Kadek Widyastari alias Widie (bas), Feby Purnamayanthi (vocal, melodi) dan A.A. Indah Trisnayanti (drum). Terakhir Nanda keluar dan digantikan Desy.
Musik harus identik dengan rokok, alkohol atau drugs ? Ah, nggak. Mungkin image di luar seperti itu ya ?, tapi saya rasa tidak harus seperti itu. Sejauh ini diantara kami sama sekali tidak ada yang merokok, misalnya... apalagi yang lain-lainnya, yang lebih dari itu. Saya rasa nggak lah. Ngeband nggak harus berhubungan dengan hal macam itu. Coba-coba juga sama sekali tidak pernah?, Rokok misalnya ? Oh, nggak. Masak kalau ngband harus begitu ? Kan nggak juga. Bikin band kan untuk main musik, ya sudah itu saja. Saya nggak percaya dengan mitos yang ada, bahwa untuk membangkitkan mood harus merokok, minum alkohol, misalnya. saya pikir, itu sugestinya sendiri. Dan tetap bisa enjoy dan berkarya ? Ya. Tetap bisa berkarya. Kami ada beberapa lagu, tapi belum semuanya terekam, untuk bisa dijadikan album. Sejauh ini baru Bajang Jani yang sudah terekam. dan masih sebatas untuk kompilasi dulu. Seperti untuk albumMafia Kisara 2 dan Kompilasi Love Peace and Harmony. Mungkin karena jam terbang Ladies Room yang masih terbatas, belum merambah kafe-kafe malam, sehingga jauh dari godaan drugs dan sejenisnya ? Nggak tahu ya, Mungkin juga iya. Tapi menurut saya, hal semacam itu sifatnya personal, sangat tergantung orangnya, bagaimana memahami akibatnya, kenapa terpengaruh atau ikut-ikutan. Sepanjang masih bisa mikir bener, saya yakin nggak bakal ikut coba-coba yang begituan, he ....he... he..... Punya temen dengan problem narkoba ? Ada memang, beberapa teman kuliah yang punya problem dengan narkoba. dan di Kisara kan banyak sekali problem seputar drugs itu. Mereka juga harus sibuk menyelesaikan problemnya itu. Saya pikir itu sudah cukup untuk menjadi cerminan. dan dari situ malah timbul keinginan untuk membantu atau mencegahnya, semampu yang bisa kita lakukan. Masak malah ikut-ikutan mereka. Peredaran dan kuantitas pemakai narkoba di Denpasar terus bertambah? Sepertinya begitu, sudah dicegah memang. Nggak gampang Saya kira yang namanya remaja itu kan punya sifat gampang penasaran, ingin coba-coba, ingin pengakuan dan yang semacam begitulah, pokoknya. Nah, ini sebetulnya bagian dari sifat anak muda yang bagus, tapi bila tidak mendapat bimbingan yang benar akhirnya bisa berbelok kepada hal-hal yang sama sekali nggak positif. Apalagi sekarang kan keadaan serba memungkinkan. Teknologi, lingkungan, pergaulan dan sebagianya. Dengan adanya handphone, misalnya, kan gampang saja untuk mendapatkan ineks, minuman, bila memang pergaulannya sudah ada diantara mereka. Pergaulan itu seringkali tak terkontrol. Untuk itu sebetulnya yang efektif dan lebih dini mencegah ya dari keluarga dan lingkungan. Apalagi Denpasar yang heterogen sebagai kawasan wisata seperti ini. Tidak mudah memang mencegah ekses pergaulan. |