|
GN Riwiyana, 49, Musisi, Spiritual Healing, Gitaris band Tropical Transit dan Pahama Bandung (Tahun 70-an). Musisi senior era kejayaan kafe musik akhir tahun 70-an, Kayu Api, Legian Kuta ini, menyebut pemakaian narkoba sebagai sesuatu yang pelik. Namun Bapak empat anak jebolan ITB ini mau blak-blakan bercerita tentang bagaimana dan apa saja yang membuat narkoba susah dihindari anak-anak muda.
Punya Pengalaman tentang Narkoba ? Ha...ha...ha...jangan-jangan ini mau mancing-mancing...ha...ha....ha....Ada sih kalau untuk bercerita, biar ada manfaatnya bagi yang masih muda ke depan. Sebetulnya tergantung dari orangnya, semua itu. Mau mencoba atau tidak sama sekali. Itu saja. Sebetulnya kalau ngomong-ngomong soal pengalaman pribadi, narkoba itu sangat meresahkan dan menyakitkan. Tapi yang paling berat untuk menghadapi sesungguhnya adalah lingkungan, kayak situasi sekarang ini, hidup dengan banyak informasi, ada TV, internet, segala macam, kita jadi banyak tahu. Ujung-ujungnya penasaran, ingin mencoba ini, itu, termasuk narkoba misalnya. Kadang-kadang tulisan, berita-berita di media massa itu malah bikin penasaran, malah membuat orang justru ingin mencoba. Nah ini sangat berbahaya. Bali sepertinya makin marak saja narkobanya dibandingkan tahun 1970-an ? Bagaimana ya, ini sepertinya juga bagian dari imbas zaman. Zaman sekarang ini teknologi kan sudah maju. Pergaulan, dam segala macamnya. Kalau dulu di Kuta cuma ada diskotik Double Six, misalnya sekarang ada berapa ? Yang datang ke Bali kan juga macam-macam, sebagai tempatnya turis. Ada yang musisi, senima, datang bawa musik, lukisan,misalnya. Nah, diantara mereka kan ada yang bawa narkoba. Dari situlah akhirnya berkembang. Say kira begitu. Akibat dari semua itu ? Ya, macam-macam. Jadi ketagihan, tergantung, juga banyak penyakit lain yang menyerang diri kita. Banyak sih yang jelas disadari atau tidak, jadi cenderung menutup diri. Secar fisik juga jadi melemah. Terus terang akhirnya jadi apatis, tidak bisa bersosialisasi secara terbuka. Kenapa sulit menghentikan Narkoba ? Susah karena selama ini pemerintah masih rancu, dalam menempatkan posisi pemakai dengan pengedar narkoba. Pemakai diperlakukan secara kriminal, digabung penahanannya sema pelaku kriminal. Malah kalau di Lapas dikumpulkan dengan Bandar Narkoba segala. Akhirnya tambah kacau saja. Ini memang salah satu masalah yang perlu dipikirkan bersama. Tak bisa kalau hanya sepihak-sepihak. Menangani narkoba itu tidak semudah dugaan orang-orang yang hanya melihatnya saja. Menghentikan semua itu ? Sekali lagi, semua itu tergantung dari diri sendiri, dari kita, bagaimana punya niat, keyakinan untuk berhenti atau tidak. Kalau memang ingin berhenti, saya yakin bisa berhenti kok. Kita bisa mengukur diri kita sendiri, seperti apa. Stop, berhenti, main musik kek, berlanjut dengan sembahyang, diimbangi dengan oleh raga, misalnya Pernah membantu teman yang pemakai ? Pernah. Yang sederhana saja, ajak mereka untuk terlibat di hal-hal yang positif, misalnya perkumpulan-perkumpulan yang positif, macam organisasi dan sebagainya. tapi memang semua butuh waktu, tidak mudah. Namun kalau ada usaha ke arah sana, saya yakin bisa. |